Selasa, 11 Oktober 2016

Tips Membuat Film Dokumenter Dengan Sederhana

Dalam membuat film dokumenter yang kita rekam harus berdasarakan fakta yang ada.  Jadi film dokumenter adalah suatu film yang mengandung fakta dan subjektivitas pembuatnya. Artinya apa yang kita rekam memang berdasarkan fakta yang ada, namun dalam penyajiannya kita juga memasukkan pemikiran-pemikiran kita.
Dalam membuat film dokumenter ada langkah-langkah dan kiat bagaimana film yang kita produksi disenangi oleh penonton dan tidak memakan biaya yang besar saat memproduksinya.. Langkah yang harus kita tempuh dalam membuat film dokumenter adalah :
Pertama, menentukan ide. Ide dalam membuat film dokumenter tidaklah harus pergi jauh-jauh dan memusingkan karena ide ini bisa timbul dimana saja seperti di sekeliling kita, di pinggir jalan, dan kadang ide yang kita anggap biasa ini yang menjadi sebuah ide yang menarik dan bagus diproduksi. Jadi mulailah kita untuk berpikir supaya peka terhadap kejadian yang terjadi.
Kedua, menuliskan film statement. Film statement yaitu penulisan ide yang sudah ke kertas, sebagai panduan kita dilapangan saat pengambilan Angel. Jadi pada langkah kedua ini kita harus menyelesaikan skenario film dan memperbanyak referensi sehingga film yang kita buat telah kita kuasai seluk-beluknya.
Ketiga, membuat treatment atau outline. Outline disebut juga script dalam bahasa teknisnya. Script adalah cerita rekaan tentang film yang kita buat. script juga suatu gambar kerja keseluruhan kita dalam memproduksi film, jadi kerja kita akan lebih terarah. Ada beberapa fungsi script. Pertama script adalah alat struktural dan organizing yang dapat dijadikan referensi dan guide bagi semua orang yang terlibat. Jadi, dengan script kamu dapat mengkomunikasikan ide film ke seluruh crew produksi. Oleh karena itu script harus jelas dan imajinatif. Kedua, script penting untuk kerja kameramen karena dengan membaca script kameramen akan menangkap mood peristiwa ataupun masalah teknis yang berhubungan dengan kerjanya kameramen. Ketiga, script juga menjadi dasar kerja bagian produksi, karena dengan membaca script dapat diketahui kebutuhan dan yang kita butuhkan untuk memproduksi film. Keempat, script juga menjadi guide bagi editor karena dengan script kita bisa memperlihatkan struktur flim kita yang kita buat. Kelima, dengan script kita akan tahu siapa saja yang akan kita wawancarai dan kita butuhkan sebagai narasumber.
Keempat, mencatat shooting. Dalam langkah keempat ini ada dua yang harus kita catat yaitu shooting list dan shooting schedule. Shooting list yaitu catatan yang berisi perkiraan apa saja gambar yang dibutuhkan untuk flim yang kita buat. jadi saat merekam kita tidak akan membuang pita kaset dengan gambar yang tidak bermanfaat untuk film kita. Sedangkan shooting schedule adalah mencatat atau merencanakan terlebih dahulu jadwal shooting yang akan kita lakukan dalam pembuatan film.
Kelima, editing script. Langkah kelima ini sangat penting dalam pembuatan film. Biasa orang menyebutnya dengan pasca produksi dan ada juga yang bilang film ini terjadinya di meja editor. Dalam melakukan pengeditan kita harus menyiapkan tiga hal adalah membuat transkip wawancara, membuat logging gambar, dan membuat editing script. Dalam membuat transkipsi wawancara kita harus menuliskan secara mendetail dan terperinci data wawancara kita dengan subjek dengan jelas.
Membuat logging gambar ini maksudnya, membuat daftar gambar dari kaset hasil shooting dengan detail, mencatat team code-nya serta di kaset berapa gambar itu ada. Terakhir ini merupakan tugas filmmaker yang membutuhkan kesabaran karena membuat editing script ini kita harus mempreview kembali hasil rekaman kita tadi ditelevisi supaya dapat melihat hasil gambar yang kita ambil tadi dengan jelas. Dengan begitu kita akan mebuat sebuah gabungan dari Outline atau cerita rekaan menjadi sebuah kenyataan yang dapat menjadi petunjuk bagi editor.

Alur Cerita Film Dokumenter


Dengan kata lain, alur cerita adalah jabaran dan penjelasan dari apa yang ingin difilmkan. Alhasil, pemilihan dan deskripsi yang sederhana, dengan pilihan kata tepat, akan sangat membantu siapapun yang membaca. Pemilihan kata yang mudah divisualkan, sangat penting. Selektivitas untuk merangkai kata-kata yang mudah divisualkan akan memperlancar komunikasi pesan dari pembuat film. Pada sisi inilah alur cerita menjadi satu elemen yang sangat penting untuk dibuat. Ia menjadi bentuk operasional dari ide dan film statement film yang kita punyai. Barangkali, sangat sederhana. Makna yang muncul, tak ubahnya sebuah kontruksi dari cara berpikir dalam membuat film. Kenapa? Karena, pembuat film akan mencoba mendeskripsikan rencana besar dari film.
Seringkali terjadi, bahwa pembuat film menuliskan alur film menjadi sulit untuk dipahami. Kenapa? Satu hal yang menjadi faktor pemicunya adalah, ketika riset dilakukan, hasil data dan fakta yang didapat tidak utuh, hanya sepenggalsepenggal, sehingga manakala dirangkai, tidak menjadi satu kisah yang baik dan mudah dicerna. Barangkali itu hanya satu temuan. Pada temuan lain, seringkali alur tidak terbangun utuh dan menarik karena alur ceritanya ditulis dengan tidak lengkap. Belum terbaca, keinginan dan kejelasan dari pembuat film itu sendiri.
Alur cerita, adalah deskripsi dari film yang akan dibuat. Dari mana mengawali, menyodorkan persoalan, hingga mengakhiri film itu sendiri. Tidak mudah tentunya. Apakah demikian? Tidak selamanya menulis alur cerita itu menjadi sulit. Satu hal yang harus dimilikii oleh semua pembuat film adalah, data dan fakta macam apa yang sudah didapat. Merangkai alur, tak ubahnya menyusun data dan fakta dari hasil riset.
Alur cerita, tak ubahnya kerangka dasar dalam menyampaikan cerita dalam film. Tak dapat dihindari bahwa dalam film inti kisahnya terlebih dahulu harus dipegang. Mengetahui kerangka cerita secara utuh adalah sebuah prasyarat mutlak dalam mengembangkan film itu sendiri. Pembuat film akan tahu, cerita serta pendekatan-pendekatan macam mana yang dapat digunakan.
Sederhananya adalah, ada tiga babakan baku. Dalam alur cerita, kita harus memahami bahwa film senantiasa akan ada awalan, isi dan akhir. Tiga bagian babakan ini, sudah tentu menjadi kerangka utama. Babak awal, akan berisikan bagaimana kita mampu mengenalkan, mendeskripsikan persoalan. Baik pengenalan tokoh, wilayah geografi dan suasana.
Sekadar catatan, dari contoh di atas, maka, siapapun akan mengetahui arah dan apa yang ingin dimunculkan dalam film. Sebuah kisah masa lalu, dengan hutan yang masih terjaga, namun akhirnya hancur. Hancur, setelah ada penebangan yang terus menerus dilakukan. Bahkan, sampai menimbulkan akibat yang sangat mengancam.
Yakni, adanya korban dari banjir tanah longsor dari tebing pinggir hutan. Yang dulunya justru tak melahirkan ancaman. Kini, setelah tanaman banyak yang ditebang, ancaman itu bisa muncul setiap saat. Menciptakan kecemasan pada penduduk asli. Bahkan, pada sisi lain, sungai yang awalnya sangat jernih, kini sudah keruh. Ini akibat air tanah yang tak bisa ditahan oleh akar pohon yang sudah mati, dan langsung mengalirkan keruh air tanah ke sungai. Ancaman lain adalah, ketika banyak pohon sumber hidup masyarakat dan hewan, satwa di wilayah tersebut ditebang. Ancaman yang lebih menakutkan, tentunya.
Nampak bahwa, dari alur cerita itu, ada tawaran konflik. Konflik dengan elemen visual yang bisa direkam oleh kamera, gabungan dari gambar dan suara. Dengan mudah, akan dipahami alur tersebut. Konflik yang dengan mudah terbaca, dan menjadi daya tarik dari sebuah film. Mungkin, pertautan konflik-konflik ini, hanya diperoleh dari hasil riset yang detail. Maka, para pembuat film seharusnya sadar betapa pentingnya riset yang detail sebagai bagian penting dari isi alur film yang akan dibuat.
Sederhananya, alur cerita adalah sebuah lembar kerja yang sangat efektif dalam membangun kisah film dalam segenap aspeknya. Artinya, dalam alur cerita akan terungkap sebenarnya cerita yang akan divisualkan. Bukan saja dari pendekatan kreatif, tetapi juga telah membuka peluang bagi adaptasi teknis pembuatan itu sendiri. Dalam cerita, sudah tentu, akan terdapat alur –sekalipun singkat dan sederhana. Juga, akan tertangkap pula, konflik apa yang sebenarnya ingin disodorkan serta tema besar macam apa yang akan diuangkap lewat film

Contoh kerangka alur cerita di bawah ini:
Judul
:
Hutan Terakhir
Tema
:
Hancurnya sebuah wilayah hutan, akibat adanya penebangan liar
Tujuan/Pesan
:
Pengelolaan dan penebangan liar, menghancurkan wilayah hutan dan mengakibatkan bencana banjir
Cerita
:
Kegigihan masyarakat di Berau, dalam menjaga hutan dan tanah adat mereka secara bersama-sama
Bentuk
:
Multikarakter (wawancara anggota masyarakat)
Potensi Konflik
:
Ketika banyak sumber ekonomi hutan yang habis, kematian anggota masyarakat karena bencana banjir, akibat penebangan pohon-pohon hutan
Elemen
:
Footage video hutan di Berau, Kalimantan
Foto hutan di Berau Kalimantan
Kliping koran
Durasi
:
40 menit, Format MiniDV (Betacam, atau Seluloid

Dari deskripsi ide di atas, sebenarnya dapat ditulis alur cerita film yang sangat sederhana sebagai berikut:

“Hutan Terakhir”
Film ini akan diawali dengan kamera yang menangkap gambar hamparan lahan hutan dengan sisa-sisa pohon rusak dan tebangan pohon di satu wilayah Berau Kalimantan. Kemudian, beberapa orang penebang masih sibuk mengikat, dan menarik batang pohon yang telah dipotong menuju ke sungai.
Gambar berpindah, akan ditampilkan tebing yang longsor, di tepi wilayah hutan yang gundul. Detail-detail longsoran tanah akibat banjir, menimbun beberapa rumah penduduk yang ada di sekitarnya ditangkap kamera. Beberapa orang penduduk masih sibuk menggali timbunan tanah yang menutup rumah mereka. Tampak Pak Anjang diantara warga desa tersebut. Ia sedang sibuk bekerja sambil bercakap dengan para warga lain tentang apa saja yang harus mereka lakukan dalam mengatasi masalah mereka.
Film kemudian menampilkan suasana kantor kabupaten. Keramaian lalu lintas dan Pak Anjang serta warga desa berjalan memasuki kantor kabupaten. Beberapa staff di kantor bupati tampak hilir mudik.. Kemudian terlihat wajah-wajah penduduk yang bercerita tentang kondisi hutan sebelum ada penebangan, sampai akibat dari banjir yang mengakibatkan banyak orang meninggal. Selain itu, mereka juga akan mengisahkan, penebangan hutan, telah membuat sungai-sungai besar menjadi keruh. Sementara, sebelum adanya penebangan, dasar sungai bisa mereka lihat dari sampan-sampan yang ditumpangi. Pak Anjang menjelaskan maksud kedatangan mereka menghadap bupati. Kemudian cerita akan menampilkan hasil pertemuan mereka dengan bupati (dari hasil riset, bupati disana kurnag mendukung upaya pelestarian). Beberapa warga tampak kurang antusias dengan usaha mereka tersebut, mereka menjelaskan baaimana isyu yang beredar menyebutkan beberapa perusahaan pemotongan kayu yang ada di wilayah itu adalah miliki pak bupati. Namun pak Anjang menjelaskan bahwa mereka harus menempuh jalur birokrasi sesuai aturan hokum dan tidak serta-merta bertindak anarki.
Dan seterusnya…
Di akhir film akan ditampilkan penduduk yang mempunyai keinginan untuk mempertahankan tanah adat. Mereka menginginkan, tanah-tanah adat, makam leluhur, dan beberapa jenis pohon sumber kehidupan mereka, jangan sampai dirusak dan ditebang.
Dengan demikian, imajinasi pembaca (siapapun) sudah mampu membayangkan, film macam mana yang akan dikerjakan. Susunannyapun, terdiri dari serangkaian kata-kata yang membentuk kalimat sederhana. Sekuens demi sekuens, dan masing-masing senantiasa berkorelasi. Pilihan kata-kata yang akan ditulis, setidaknya mengandungi makna visual (yang mudah divisualkan). Sehingga, ketika dirangkai menjadi sebuah kalimat, dengan mudah akan tertangkap gambaran visualnya. Ini menjadi penting, karena, alur cerita adalah paparan awal dari film itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah, segenap kejelasan. Semuanya menjadi jelas terlebih dahulu, sebelum melakukan langkah kerja berikutnya.

Namun, sebagai kerangka dasar, untuk melihat perbedaan-perbedaan penting lainnya antara video komunitas dengan video dokumenter, mungkin tabel berikut akan sedikit membantu.*
Slug
Video Dokumenter
Video Komunitas
Siapa menentukan isi?
Pembuat Dokumenter
Warga masyarakat setempat
Siapa menulis naskah?
Pembuat Dokumenter
Sering tidak memerlukan naskah, atau warga setempat bersama-sama menyusunnya
Siapa mengambil gambar?
Pembuat Dokumenter atau pengarah kamera profesional
Warga setempat atau bersama fasilitator (sebagai suatu tim pengarah kolektif)
Siapa penonton utama?
Tak dapat ditentukan, bahkan ‘anonim’ (tak dikenal oleh pembuat).
Warga setempat, tidak anonim.
Siapa yang menyebarkan?
Pembuat dokumenter kerjasama dengan pihak lain.
Warga setempat kadang dibantu oleh fasilitator.
Siapa yang membiayai?
Pembuat dokumenter atau penyandang dana tertentu.
Masyarakat
Apakah umpan balik diharapkan?
Tidak terlalu diperlukan, bair penonton yang berpikir tentang itu.
Wajib, video itu hanya alat untuk memulai tindakan-tindakan nyata.
Proses atau produk?
Lebih mementingkan produk.
Lebih mementingkan proses.
Apa paradigma dibelakangnya?
Monoisme, obsesi, obyektivitas, subyektif.
Pluralisme, subyektif.

Tip dan Trik Membuat Profesional Video dengan Camcorder

Sekarang sudah tidak aneh lagi melihat orang menenteng-nenteng kamera video di berbagai acara. Yup, perangkat ini tidak lagi didominasi oleh para profesional dan sineas saja. Dengan desain yang semakin minimalis dan kompak, plus fitur dan fungsi yang mudah dioperasikan, kamera video semakin ’ramah’ bagi pengguna amatir dan pehobi videography.
Salah satu kamera video portable yang marak saat ini adalah camcorder. Yaitu kamera sekaligus video recorder. Perangkat ini merupakan kamera video tipe digital yang hadir dalam berbagai ukuran dan kemampuan.
Jika Anda baru membeli camcorder atau sedang mencoba hobi videography menggunakan perangkat ini, berikut langkah-langkah untuk membuat video yang tidak terlihat ’biasa ’ dan ’amatiran’.

1. Gunakan tripod
Meski camcorder Anda dilengkapi built-in image stabilization, sebaiknya Anda menggunakan tripod untuk menjaga kestabilan camcorder sehingga dapat menghasilkan gambar video yang lebih baik dan tidak shaky

2. Panning, zooming, dan gerakan lainnyaSalah satu kesalahan dalam pembuatan video adalah perekaman satu scene yang terlalu lama atau sebaliknya perpindahan antar scene yang terlalu cepat. Rekam subyek Anda selama 10-20 detik, stop dan ambil gambar yang lain. Saat melakukan panning dan zooming, lakukan secara pelan, smooth dan tidak tergesa-gesa. Ini akan membuat video lebih nyaman ditonton.

3. Mengatur komposisiSebelum merekam, perhatikan posisi subyek dan latarnya, apakah sudah sesuai dengan keinginan. Lakukan seperti halnya sedang memotret. Sebagai panduan, gunakan The Rule of Thirds. Yaitu membayangkan layar dibagi menjadi tiga bidang horisontal dan vertikal. Pastikan subyek yang akan direkam berada pada salah satu dari 4 titik potong antara garis horisontal dan vertikal tersebut. Ini akan membuat tampilan menjadi lebih dinamis, terutama saat Anda membuat video interview atau melakukan close up. Tentu saja, ini bukan harga mati, karena Anda juga bebas untuk membuat kompisisi kreatif lainnya.

4. Gunakan cahayaSebagian besar camcorder tidak dapat menghasilkan gambar yang bagus jika pada saat perekaman minim pencahayaan. Untuk mengatasinya, Anda dapat memanfaatkan cahaya alam dengan melakukan syuting outdoor. Untuk hasil lebih baik, sebaiknya Anda melakukan syuting outdoor di pagi atau sore hari, ketika matahari tidak terlalu tinggi. Jika tetap harus melakukan syuting indoor, pastikan ruangan memiliki pencahayaan yang memadai. Seperti dengan membuka jendela, menyalakan lampu, dan menggunakan built-in light pada camcorder.

5. Gunakan external microphone
Tanpa peralatan audio yang memadai, sulit untuk mendapatkan video dengan suara yang berkualitas. Beberapa camcorder memang telah dilengkapi dengan built-in microphone, tapi mike ini akan merekam audio dari berbagai arah. Sehingga jika mewawancarai subyek di tempat yang ramai, suaranya tidak akan terdengar jelas. Maka pastikan camcorder Anda memiliki audio input, untuk memasang external mike.

6. Hindari penggunaan special effectsMemang menyenangkan bermain-main dengan fitur special effects yang ada pada camcorder. Tapi ini tidak akan membuat video Anda tampak lebih keren. Sebaiknya Anda membuat efek-efek tertentu pada video melalui proses editing menggunakan software. Sehingga Anda bisa melakukan kontrol transisi yang lebih baik dengan pilhan special effects yang variatif. Dengan demikian, Anda juga tidak akan kehilangan materi video yang asli.

7. Video haruslah berceritaVideo yang baik harus memiliki alur cerita yang utuh, yaitu pembuka, isi dan penutup. Maka sebaiknya sebelum melakukan perekaman, Anda sudah memiliki rencana apa saja yang akan direkam dalam bentuk storyboard sederhana.

8. Jangan lupa, perawatan!Terakhir adalah merawat camcorder agar tidak mudah rusak sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu lama. Bersihkan lensa dan layar dengan lap khusus yang lembut. Hindari dari panas, pasir, air dan udara yang lembab. Dan letakkan pada tempat yang aman agar tidak jatuh. Jika rusak, segera perbaiki di layanan perbaikan resmi.

Contoh Rancangan Script Film Dokumenter

Tema FILM DOKUMENTER : “EFEK BENCANA Terhadap Perkembangan Anak”
  1. Subyek : Anak
  2. Lokasi : Daerah-daerah bencana dan potensi menimbulkan bencana.
  3. POV 1 : Point of View Anak terhadap lingkungannya (bencana alam yang
              memperngaruhi lingkungan sosial budayanya.)
  1. POV 2 : Pandangan orang luar (para ahli, media) terhadap kejadian, bencana, hal yang
              berhubungan dengan lokasi pengamatan (pembuatan film).
  1. Data tambahan : Klipping koran, komparasi data historis dan segment Animasi.

Rancangan tayangan :

  1. 60 menit dengan 5 segment dan 1 teaser
  2. Pembagian segment :
  • Teaser : Montage dan narasi awal tentang kejadian sebuah bencana atau sebuah ketakutan terhadap ancaman bencana.
  • Segment 1 (hubungan anak dgn keluarga dan lingkungannya) : Subyek anak sebagai pemain utama menerangkan pola hubungannya terhadap keadaan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
  • Segment 2 (Anak melihat Lingkungannya yang berubah rusak atau mulai mengalami tekanan – intervensi dari orang luar atau kendala lingkungan yang memaksa ia/keluarganya melakukan sesuatu).
  • Segment 3 (Sisi pandang orang lain – contoh : para Investor yang melihat daerah lokasi sebagai tempat menuai uang (tempat yang cocok untuk dieksploitasi). Sisi pandang orang-orang yang melakukan kesalahan (perusakan lingkungan), karena alasan ekonomi dsb.
  • Segment 4 : Penjelasan para Ahli dan Animasi data. Bisa juga dimasukkan komparasi data historis terhadap lingkungan yang sama atau kejadian yang berbeda di waktu yang berbeda (komparasi data NEWS, data riset dsb.)
  • Segment 5 : Sang Anak menemukan sebuah jawaban atau sebuah pertanyaan terhadap kondisi lingkungannya yang semakin rusak. Eksplorasi kesedihan/dramatika subyek terhadap keadaan bencana / kerusakan lingkungan.

Rancangan Cerita per Episode :

1.    Episode Anak Petani Sayuran – Kemantren – Sumber, Cirebon
Teaser : Kerusakan lingkungan daerah Pantura. Aspek budaya dan ekonomi.
               Mengerucut  pada persoalan keluarga seorang petani penggarap lahan
jagung yang  mempunyai anak untuk membantu ayah ibunya sepulang
sekolah.
Segment 1 : Subyek anak adalah anak yang rajin membantu ayahnya untuk
                     bertani dan menanam sayuran.
Segment 2 : Subyek anak melihat kesulitan orang tuanya dalam hal ekonomi. Ia
                     melihat  sang Ayah terjerat hutang kepada para
pemodal/investor/tengkulak yang  memberinya pinjaman uang
untuk modal usaha.
Segment 3 : POV para investor yang melihat daerah Pantura sebagai lahan
                     yang bagus untuk investasi pertanian. POV pemerintah daerah
yang melihat daerah  tersebut sebagai daerah subur dan pertanian
yang menjanjikan. POV para petani yang merasa tidak mempunyai
pilihan dan terdesak kebutuhan ekonomi.
Segment 4 : Pendapat para Ahli dan pemerintah Cirebon terhadap lingkungan
                     yang rusak di daerahnya.
Segment 5 : Subyek Anak menemui sebuah dilema dan sebuah ketakutan akan
                     bahaya abrasi dan penggundulan tanaman di daerah Pantura.

LANGKAH MEMBUAT SKENARIO FILM

1. IDE CERITA
Film itu sebuah cerita bergambar dan bersuara. Karena sebuah cerita, jadi kamu harus punya cerita yang dianggap menarik untuk difilmkan. Dari mana datangnya ide? Ide banyak. Ada di mana-mana. Tinggal kamu buka lebar-lebar semua indera kamu. Kamu bakal mendengar, merasa, melihat, mengecap, dan mencium ide.

2. SIAPKAN SINOPSISNYA
Sekalipun film dan cerpen atau novel sama-sama sebuah cerita, tetapi ada perbedaan. Perbedaannya pada medium yang digunakan. Seperti disebutkan pada nomor satu, film menggunakan medium gambar dan suara. Sedangkan cerpen dan novel menggunakan medium teks.
Sementara sinopsis sendiri memiliki arti penting dalam pembuatan skenario, yaitu sebagai pijakan. Kita akan kesusahan bikin skenario bila kita tidak tahu sinopsis ceritanya. Akan sama sulitnya kita akan bikin sinopsis bila tidak punya ide cerita.
Bila yang kamu bikin bukan film lepas (FTV/layar lebar), melainkan sinetron, maka selain menyiapkan sinopsis global, kamu juga harus menyiapkan sinopsis per episode yang tentu saja lebih detail dibanding dengan sinopsis global.

3. BIKIN LOGLINE/PREMIS
Logline atau premis bertujuan untuk memperjelas film apa yang kamu buat. Logline sejenis iklan. Logline yang bagus akan menarik orang untuk menonton film yang kita buat. Agar mudah membuat logline, Richard Krevolin memberikan pola kalimat sebagai berikut: bagaimana jika…… dan kemudian……. Contoh: bagaimana jika orang yang kamu siksa adalah orang yang akan menolong kamu dan kamu tidak tahu. Kalimatnya dibikin sederhana menjadi: yang kamu siksa adalah penolongmu yang tidak kamu ketahui.
Untuk lebih jelas tentang logline, kamu bisa melihat cover-cover film. Di sana ada kalimat-kalimat yang menarik. Itulah logline atau premis.

4. TREATMENT
Treatmen ini pembabakan. Sebuah film umumnya tiga babak. Sinopsis itu harus dipecah ke dalam tiga babak ini. Babak pertama sebagai pengenalan seting, tokoh, dan awal masalahnya. Babak kedua sebagai bagian berkecamuknya masalah. Babak ketiga sebagai penyelesaiannya.
Yang tiga babak ini disebut dengan struktur tiga babak (tree acts structure). Ada juga yang disebut struktur sembilan babak (nine acts structure), sebagai pengembangan dari yang tiga babak. Yang sembilan babak ini terdiri dari:
· Babak 1: kejadian buruk menimpa orang lain.
· Babak 2: pengenalan tokoh utama (protagonis).
· Babak 3: kejadian buruk menimpa protagonis, atau terlibat/dilibatkan kepada
masalah orang lain pada babak 1.
· Babak 4: protagonis dan antagonis
· Babab 5: protagonis berusaha keluar dari masalah
· Babak 6: protagonis salah mengambil jalan
· Babak 7: protagonis mendapat pertolongan
· Babak 8: protagonis berusaha keluar dari masalah lagi
· Babak 9: protagonis dan antagonis berperang, menyelesaikan masalahnya

5. OUTLINE SCENE/SCENE PLOT
Sekarang saatnya membuat outline scene/scene plot. Outline scene/scene plot adalah rencana peristiwa-peristiwa yang akan diambil (disyut). Pembuatan outline scene/scene plot akan mempermudah pembuatan skenario.
Contoh:
1. Lisa pamit kepada orangtuanya untuk pergi ke Jakarta.
2. Arman, pacar Lisa, sedang menyiapkan rencana menculik Lisa.
3. Dst

6. BIKIN SKENARIO!
Ini contoh skenario:
SANG PRABU
Datang Untuk Kembali
Cerita : Yul Andryono
Skenario : Gola Gong
Fade In
Act 1
01. EXT. TAMAN SARI-PAGI (HARI 1)
Pemain: Kepengen, Putri Malaka, Roh Deni
Kepengen memergoki PUTRI MALAKA sedang bersedih hati. Kepengen menanyakan kesedihannya. Putri malaka bermuram durja.
Tanpa mereka sadari, roh deni hadir di sini. Mendengarkan percakapan mereka.
KEPENGEN:
Haiya, kenapa putli owe yang cantik ini belmulam dulja?
ROH DENI:
Haiya, putli sedang sedih. Kasihan… ini salahku juga!
PUTRI MALAKA:
Bagaimana Ay tidak sedih? Sekarang Ay tak punya datang! Gusti Prabu belum nyariin Ay punya dayang! Padahal gengsi seorang putri itu ada pada seorang dayang!
Dialog dan seterusnya….
CUT TO
02. INT. PENDOPO ISTANA – SIANG (HARI 2)
Pemain: Prabu, Putri Malaka, Woro Denok, Putra Mahkota, Selir, Permaesuri, Mahapatih, Para Punggawa, Dayang
Prabu duduk di singgasananya. Permaisuri di sebelahnya. Woro Denok dengan genit duduk sambil memegang Putri Mahkota.
PRABU:
Siang ini sengaja kukumpulkan. Pertemuan ini atas permintaan Putri Bunga Seroja dari Kerjaan Malaka…
Dst…
CUT TO
03…………….
04………………….
FADE OUT

Keterangan:
Fade In : Cerita dimulai
Act 1 : Babak 1
01 : Scene 1 (secene [pemandangan]= potongan peristiwa)
EXT : Exterior (peristiwa terjadi di luar), INT=interior
Taman Sari : Lokasi peristiwa
Pagi : Waktu kejadian
Hari 1 : Hari kejadian (untuk membedakan kostum dll)
Pemain: ….. : Pemain yang main pada film
Kepengen…. : Deskripsi peristiwa
Kepengen: Haiya : Dialog
CUT TO : Pemisah antar scene.
Fade Out : Tanda cerita sudah usai
Selain Cut To masih ada turunannya spt: intercut to, disslove to, paralel cut to, dll


PERTANYAAN PENTING

Ada 7 pertanyaan penting yang harus dijawab penulis skenario agar skenarionya bagus. Tujuh pertanyaan itu ialah:

1. Siapa tokoh utamanya?
2. Apa yang diinginkan oleh tokoh utama?
3. Siapa antaginisnya? Apa hal yang menghalangi tercapainya keinginan protagonis?
4. Bagaimana protagonis bisa mencapai keinginannya?
5. Apa pesan yang ingin kamu sampaikan dalam cerita itu?
6. Bagaimana kamu nyeritain cerita itu?
7. Bagaimana perubahan nasib tokoh-tokohnya?

sumberhttp://www.fb.co.id/blogs/1472/134/tips-membuat-film-dokumenter-den: